Senin, 30 April 2012

KADO SELIMUT UNTUK NENEK


KADO SELIMUT UNTUK NENEK
Oleh: Eka Novita Damayanti
            “Bagaimana?” Nenek tanpa tedeng aling-aling bertanya waktu aku muncul di ambang pintu kamarnya siang itu.
            “Biasalah, Nek.” jawabku bosan sambil menghempaskan tubuh ini tepat di sebelahnya berbaring. Aku tak ingin nenek bertanya lebih jauh karena jawaban masih sama saja.
            Dengan tenaganya yang ringkih, nenek bersusah payah duduk. Mengambil suatu posisi agar lebih nyaman berbicang denganku. Baru mau ku bantu, terlambat, nenek sudah duduk sendiri.
            “Biasa bagaimana?” Dari balik kaca matanya yang setebal pantat botol, mata tuanya yang kelabu akibat katarak akut, memandang penuh tanya padaku.
            “Biasalah Nek, Luh menjalani serangkaian tes dan wawancara.”      “Terus?”
            “Terus Luh disuruh menunggu sampai mereka mengabari lebih lanjut tentang diterima tidaknya Luh bekerja di sana.”
            Nenek manggut-manggut. Beliau memang tak pernah mencicipi bangku sekolah. Sama sekali. Menakjubkan, beliau selalu nyambung aku ajak bicara tentang masalah apapun, bahkan sampai urun pendapat. Kalau saja nenek sempat sekolah, aku tak yakin bisa mengalahkan kecerdasannya.
            Aku mengeluh panjang pendek. Seperti biasa. Tentang percuma saja aku bersusah payah nenteng buku dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi, tentang percuma saja aku nekad mengiyakan ajakan paman dan bibi pindah ke sini dengan harapan di kota kecil ini aku akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan, tentang rasa ibaku pada ayah dan ibu yang sudah menggelontorkan banyak uang tak sedikit untuk biaya pendidikanku kalau akhirnya aku menjadi seperti ini. Tak lebih dari seorang sarjana pengangguran.
            “Padahal yang Luh inginkan nggak macam-macam, Nek.” Aku melenguhkan napas panjang. Dadaku terasa sesak oleh beban hidup lama tak mendapat kerja ini.
            “Hanya ingin punya penghasilan sendiri. Sedikit, cukuplah. Apa permintaan Luh itu berlebihan?
            Nenek lurus memandangku. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Terpancar jelas di mata tuanya yang kelabu karena katarak. Tapi nenek menolak waktu aku tanya apa gerangan yang sedang dipikirkannya.
            “Luh tenang saja.” Nenek mengelus rambutku. Tangannya yang keriput tapi sangat halus menyentuh rambutku sayang.
            “Jangan pernah Luh putus asa dari rahmat Allah.” Suara nenek bergetar. Hatiku juga. Semua bilang, dari semua cucunya, akulah yang paling nenek sayang. Tapi aku tak terlalu merasa demikian. Aku percaya nenek juga sangat sayang pada cucu-cucu yang lain. Tapi disadari atau tidak, aku sering putus asa dari rahmat Allah. Merasa akulah orang yang paling bernasib sial di kolong jagad ini. Lebih sering mengeluh daripada bersyukur.
            “Luh lihat dan teliti, mungkin ada kesalahan atau sesuatu yang Luh lupakan.”
            Aku terlonjak, duduk.
            “Maksud Nenek?”
            “Mungkin Luh pernah menyakiti seseorang. Membuat orang lain sakit hati dengan perbuatan atau perkataan Luh.” Nenek masih membelai rambutku. Wangi kain panjangnya yang seperti bau pandan, melekat dalam otakku. Membuat aku sanggup mengenali nenek meskipun dalam keadaan mata tertutup.
“Perrcaya atau tidak, doa orang teraniyaya itu manjur diijabah Allah.”
            Aku angkat kepalaku dari pangkuan nenek. Termangu. Mengingat-ingat segala sesuatu yang pernah aku katakan atau ucapkan. Hal-hal yang menyebalkan yang mungkin membuat orang ingin meninjuku misalnya, kalau tak ingat aku seorang perempuan. Aku tak ingat. Entahlah mungkin saja.
            “Lalu Nek?”
            “Luh harus minta maaf pada orang itu. Minta keiklasannya memaafkan Luh.”
            Betul juga.
Masih belum puas, aku tanyakan apa yang nenek maksud dengan sesuatu yang aku lupakan. Gerangan apa itu sebenarnya. Jawaban nenek di luar dugaanku.
            “Setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing…. karunia Allah SWT. Orang lain punya, Luh juga pasti ada.” Getaran semakin kuat di suaranya, kemudian batuk-batuk. Aku bergegas ke belakang mengambil segelas air minum. Menyesal aku telah memaksanya banyak bicara. Tapi apa maksud nenek? Apa yang diberikan Tuhan padaku tapi lama aku sia-sakan? Perlu beberapa hari bagiku untuk membongkar habis isi otakku, mencari tahu apa yang nenek maksud. Sampai hari ketiga, aku sadar, aku punya bakat berdagang. Aku senang melakukan itu dan aku termasuk mahir dalam meyakinkan orang. Merayu mereka membeli barang yang aku tawarkan.
            Di mulai dengan merayu-rayu Tante Dewi, tetangga sebelah rumah paman dan bibi, meyakinkannya aku bisa dipercaya membawa barang-barang dagangannya. Tak mudah tentu saja, karena tante ini terlanjur patah arang, banyak dikecewakan orang yang bermulut manis tapi ujung-ujungnya membuatnya merugi sampai belasan juta rupiah.
            “Barang daganganku habis, tapi uang tak kembali.” keluhnya.
            Nenek tampil sebagai palawanku. Beliau sampai pasang badan, meyakinkan Tante Dewi tak ada yang perlu beliau khawatirkan karena nenek akan menanggung penuh atas semua kerugian yang mungkin akan aku timbulkan. Jitu. Tante Dewi yang semula tak percaya, berbalik seratus delapan puluh derajat, menyetujui permintaanku. Tak tanggung-tanggung, dia langsung membekali aku dengan enam jenis barang sekaligus sebagai modal awalku bekerja. Tentu aku senang bukan kepalang. Tak menunggu sampai sepeda motor Tante Dewi menghilang dari pekarangan, aku peluk nenek sekuat-kuatnya sebagai luapan kegembiraanku. Sampai nenek megap-megap, kesulitan bernapas. Aku belum tahu bagaimana ini ke depannya, tapi perasaanku menandakan kemajuan.                    
            “Tapi ingat! Nenek hanya berpura-pura saja melindungimu.” Nenek memasang wajah galak. Aku tahu gembiranya melebihi gembiraku atas kesempatan baik ini.
“Kau tanggung sendiri akibatnya kalau sampai mangkir.”
Alhamdulillah, semuanya berjalan mulus. Titipan pertama laris manis terjual dan keuntungannya bisa dibilang tak mengecewakan. Aku ingat senyum Tante Dewi saat pertama aku serahkan setoran pertama. Dia bilang, dari semua yang bekerja dengannya aku yang paling cepat menyerahkan setoran dan jumlahnya paling memuaskan pula. Bisa ditebak, barang kedua, ketiga dan selanjutnya bisa dengan lebih mudah aku bawa.
            “Yang penting kejujuran. Itu modalmu yang utama.” pesan nenek selalu pada aku yang sudah melupakan cita-citaku bekerja kantoran.
           
            Usaha dagang dengan system kredit ini tak aku sangaka maju dengan sangat pesat. Hanya satu tahun berselang, perlahan tapi pasti, usaha kecil-kecilanku ini mulai menampakan hasil. Aku tak sekedar membawakan barang-barang dagangan Tante Dewi saja, tapi mulai sedikit-sedikit membawa barang-barang dagangan milikku sendiri. Sedikit kemudian menjadi bertambah banyak, lalu bertambah banyak lagi. Aku semakin tenggelam dalam keasyikanku berjualan. Sampai aku hampir lupa bagimana cara menulis sebuah surat lamaran itu. Aku senang sekali tapi tak merasa puas. Maksudku, aku mulai memikirkan cara lainnya untuk melebarkan sayap usaha. Bagaimana caranya agar usaha yang aku jalankan ini menjadi lebih maju lagi. Termasuk
            “Bagaimana kalau membuka toko sendiri?” usul nenek dalam percakapan kami di telepon siang menjelang sore itu.           “Itu terlalu mahal, Nek. Mana cukuplah uang Luh.”
            “Kalau begitu buat saja lapak. Tidak buruk buat pemula.” Saran nenek lagi. Beliau masih tinggal di kota kecil itu bersama paman dan bibiku, sedangkan aku kembali tinggal bersama kedua orangtuaku karena aku percaya di kota kami ini, membuka bisnis pasti lebih maju.
            Aku menggeleng lagi. Membuat sebuah lapak juga tak murah. Yang resmi tentu saja. Harus menyewa tempat, kemudian membangunnya. Itu perlu uang yang tak sedikit.
            “Kalau begitu, sewa saja. Menyewa sebuah lapak yang sudah jadi. Bagaimana kau ini! Begitu saja tidak tahu!!” Sekali lagi pemikiran nenek  yang cemerlang menggebrak kebuntuanku.
            Aku sudah hampir membuka mulutku, berterima kasih padanya, tapi nenek mendahuluiku. “Sudah cukup di sini saja!”
“Kau sudah terlalu lama mengganggu waktu tidurku.” pungkasnya kemudian terdengar bunyi klik di ujung sana.
Aku bayangkan nenek dengan langkah diseret-seret naik ke pembaringannya dan menyelimuti tubuhnya yang ringkih dengan selimut tua berwarna hijau botol itu. Peninggalan mendiang kakek yang seingatku sudah ada sebelum aku di SMP.
Dulu sewaktu masih di sana, aku lupa memberikan sesuatu kepada nenek sebagai ungkapan terima kasihku meski aku tahu nenek tak pernah mengharapkan apapun dariku. Dalam hati aku berjanji, kelak bila impianku mempunyai sebuah toko pakaian sendiri tercapai, nggak pake lupa dan nggak pula pakai lama, segera aku kirimkan kepadanya selimut baru yang lebih bagus dan lebih tebal, sehingga nenek tak akan kedinginan lagi.  
****
            “Nenekmu sakit keras.” jawab ibu waktu aku tanya apa yang dibicarakannya dengan Bibi Fat tadi di telepon.
            “Sudah seminggu lebih ini. Komplikasi penyakit tua ditambah sembelit. Itu yang Bibi Fat bilang di telepon.” tambah ibu yang hapal betul aku tak senang ada orang mengklasifikasikan penyakit nenek sebagai penyakit tua hanya karena usianya.
            Aku tangkap gelisah di mata ibu. Aku tahu perkara ongkos yang jadi penyebabnya. Bukan sedikit uang yang beliau perlukan untuk bisa menyambangi nenek yang tinggal bersama keluarga Bibi Fat di pedalaman Kalimantan sana.
            “Mungkin ayahmu saja yang pergi.” kata ibu. Tapi dari suaranya, aku tahu ibu juga ingin pergi. Kalau hanya ayah ke sana, setiap orang pasti akan bertanya kenapa ibu sebagai menantu tidak ikut.
            “Pergilah Bu. Kalau memang ibu mau ke sana.”
            “Tapi Luh….” Ibu tak meneruskan kalimatnya. Beliau tahu aku pasti sudah sangat mahfum apa yang akan dikatakannya selanjutnya.
            “Pergilah Bu, kalau ongkos, mungkin Luh bisa bantu sedikit-sedikit.” Aku membujuk. Meski dalam hati aku juga ingin pergi, tapi aku sadar, ibu yang lebih berkepentingan.
            “Tapi Luh….” Kembali kalimat ibu tak berkelanjutan. Mungkin yang beliau maksud betapapun semua orang di dalam keluarga datang, kalau aku sebagai salah seorang cucu kesayangan nenek tak datang, nenek pasti sangat kehilangan.
            “Insya Allah Bu, kalau ada rejeki lagi, secepatnya Luh menyusul ke sana.”
*****
            Hampir seminggu ayah dan ibu di kampung. Alhamdulillah keadaan nenek mulai membaik. Sembelitnya juga mulai jarang. 
            “Tapi Luh, nenek tidak mau makan.” cerita Ibu padaku di telepon.
“Setiap hari setiap waktu, selalu kamu yang ditanya nenek.” Tak peduli siapapun yang datang menjenguk, kalau aku belum datang, nenek masih terus menanyaiku.
Tak peduli bagaimana cara mereka merawatnya, nenek selalu membanding-bandingkan dengan caraku merawat beliau yang menurut beliau lebih telaten. Aku tersanjung, tapi lebih prihatin karena aku tak bisa ke sana pada saat nenek membutuhkan aku.
            “Luh usahakanlah bagaimana caranya supaya bisa ke sini juga.” pesan ibu sebelum menutup telepon.
Bukan aku tak mau, ke sana  ke sini aku mencari tiket, tapi setiap biro perjalanan bilang tiket ke kampung kami sudah full booked berkenaan dengan hari sembahyang kubur etnis Tionghoa. Aku katakana itu pada ibu, suaranya khawatir. Ibu bilang, mengetahui aku tak bisa datang, kondisi nenek yang membaik, kembali jatuh sampai ke titik terendah.
            “Tidak pernah seperti ini sebelumnya.” Samar. Timbul tenggelam. Aku dengar tangis ibu yang sekuat tenaga berusaha dia sembunyikan dariku.
            Keesokan harinya aku datangi lagi agen-agen perjalanan yang aku datangi dua hari lalu. Berharap ada orang yang batal pergi dan aku bisa menggantikan posisinya. Tak mengapa meski harus membayar sedikit lebih mahal dari harga normal. Tapi hampir semua biro perjalanan di kota aku sambangi, jawabannya sama dan tak bisa ditawar lagi. Tiket pesawat sudah full booked sampai seminggu ke depan.
            Tengah malam, aku terbangun, tesandung, tersuruk-suruk, meyambut telepon yang bordering-dering. Aku angkat, ternyata ibu di seberang sana. Ibu menangis, Tersedu sedan dan kali ini beliau tak berusaha menutupinya dari aku. Saat dikatakannya, badanku luruh lunglai terkulai di lantai. Nenek tutup usia setengah jam yang lalu.
*****
            Tak terasa, genap setahun sudah nenek tutup usia. Sejak kemarin, ibu sibuk menyiap segala sesuatu untuk pengajian memperingati setahun wafatnya nenek.
            Aku katakan pada ibu, belakangan ini beberapa kali aku bertemu nenek dalam mimpi.
            “Mungkin nenek marah ya Bu, Luh tak datang waktu nenek sakit keras.” kataku menyesal. Sampai sekarang tak habis rasa menyesalku.
            Ibu menggeleng keras. Sebagai menantu, ibu hapal betul bagaimana mertuanya itu.
            “Tidak, mana mungkin orang yang sudah berlainan alam dengan kita marah pada Luh.” jawab ibu sambil mengelap piring-piring.
            “Mungkin Luh sendiri yang merasa bersalah.”
            “Bersalah?”
            “Pernah buat nenek kesal nggak tapi tak sempat minta maaf? Atau pernah diam-diam berjanji mau melakukan sesuatu buat nenek tapi juga tak sempat karena nenek keburu tutup usia?” Ibu melanjutkan dengan mengelap gelas-gelas sekarang.
            Aku tersentak. Bagaimana aku bisa sampai lupa? Mungkin ini yang menyebabkan nenek selalu mendatangiku di mimpi. Aku katakan itu pada ibu, beliau tertawa dan menggeleng-geleng.
            “Luh, Luh, itu tambah tidak mungkin! Sebuah selimut?” Ibu senyum-senyum. Ibu bilang, tidak mungkin orang yang sudah meninggal dunia menagih janji. Orang yang sudah meninggal dunia tak perlu apapun dari dunai ini kecual doa tulus kita supaya mereka di alam sana.
            “Mungkin Luh sering lupa mengirimi nenek doa.” ibu yang sudah selesai dengan mengelap piring-piring itu.
            Benar juga. Selama aku sibuk dengan pekerjaanku, selama itu juga sholat yang aku lakukan asal lalu saja. Asal menggugurkan kewajiban. Tak jarang, selesai sholat aku terburu-buru melanjutkan pekerjaanku, lupa berdoa. Aku dimabuk kesibukan sampai lupa semua yang aku miliki sekarang dari Dia yang Maha Pemberi.
            Malam ini, pertama dari sekian malam yang berlalu, aku kembali larut dalam untaian ayat-ayat suci. Berulang kali ibu memanggilku dari ambang pintu, berkali juga aku jawab dengan jawaban yang sama, aku akan makan nanti selesai surah yasin dan doa arwah ini aku baca. Nenek begitu mendukungku waktu aku jatuh, menyemangati aku agar tak ragu mempunyai impian. Tapi aku tak bisa memberikan apapun kepadanya sekarang selain doa tulus yang aku panjatkan yang semoga Allah emnijabahnya. Ini kado paling nenek inginkan sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar