Rabu, 18 Februari 2015

KUBERI DIA NAMA SAM KARENA BERASAL DARI TONG SAMPAH


 
Pagi itu seperti biasa saya ke pasar. Seperti biasa membeli sarapan dan bekal makanan untuk anak-anak sebelum meninggalkan mereka seharian untuk kerja. Agak tergesa-gesa, karena bangun kesiangan. Sendirian, karena Si Doggy, anjing milik bapak kos yang biasa ikut, hari itu entah main kemana bersama teman-temannya. 

Mendekati pasar yang diuju, terdengar suara yang sangat saya tidak suka. Makin mendekat gerbang pasar suara itu maikn jelas dan terang. Perasaan mengatakan senag terjadi sesuatu tidak beres di sini. Heran, orang-orang di pasar dan sekelilingya adem ayem, seperti tidak mendengar apapun.
Seperi biasa. Batin ini berperang. Ambil atau tidak. Ambil atau lewat saja. Dan seperti biasa juga. Akhirnya aku memutuskan yah… ambil sajalah. Tentu dengan berbagai konsekuensi. Diketahuan ibu kos dan dimarahi, misalnya.

 Tapi saya tak ingin terlalu menarik perhaian orang-orang di pasar ini. Bergegas saya belanja keperluan anak-anak kaki empat, setelahnya menghampiri tempat asal suara kecil itu berasal. Sebuah bak sampah organic. Entah siapa geranga manusia kejam itu yang telah dengan begitu tega membuang anak kucing kecil itu di sana. Tak cukup memisahkannya dari induknya, masih juga menumpuk si bayi kucing malang itu dengan sampah sayuran dan berbagai rupa di atasnya. Perlu beberapa saat buat saya mengore=ngorek sampah buat mengeluarkan si kecil dari sana. Tak berhasil karena tumpukan sampah begitu banyak. Beruntung seorang petugas kebersihan melintas, yang dengan bantuannya saya bias mengevakuasi si kecil dari saana. Tapi belakangan saya malah curiga, jangan-jangan si bapaklah yang mebuang si kecil di sana. (Hehe… maaf ya Pak! )
 Sam sesaat setelah Bergabung

Berbekal pelastik belanjaan saya membawa Sam pulang ke kos. Saya berjalan lebih cepat dari biasa. Saya mengerti teriakannya di dalam plastic bias jadi karena kedinginan dan lapar. Entah sudah berapa lama dia di tempat itu. 

Smapai di tempat kos, aku berpikir, bayi sekecil ini, pasti belum bias makan nasi plus pindang seperti saudara-sauranya yang lain. Harus susu dan bukan semabarang susu karena bias menyebabkan diare hebat. Kata vet langanan saya, bayi sekecil itu yang paling baik ya minum ASI induknya. Tapi dalam keadaan gawat darurat seperti saya ini, bias juga minum susu berlabel LLM. Buka terbaik memang, karena tidak diformulasikan buat bayi kucing, tapi lebih baiklah dari pada melihatnya kelaparan.

 Entah Mengapa kamu sulit sekali diphoto dari depan

Berbekal selembar uang lima puluh ribuan, saya pergi memblei susu. Gajian masih lama. Membeli susu berarti saya harus lebih menghemat daripada hari-hari sebelumnya, tapi saya tidak keberatan. Di dalam benak saya, yang pernting adalah Sam bias kenyang dan tidak berteriak-teriak lagi. Dan memang, setelah minum susu dengan lahapnya, dia diam dan tertidur. Barulah saya bias berangkat kerja dengan tenang. 

Beberapa waktu bersama saya, Sam menjadi lebih sehat. Apalagi setelah dating saudara-saudaranya seumuran yang saya rescue dari tempat yang sama. Saya bukan orang berada. Tapi membiarkan mereka di sana, menanggung resiko kelaparan, haus, kehujanan bahkan tertabrak kendaraan yang berlalu lalang mebuat saya miris. Daripada saya emnyesal di kemudian hari karena tidak melakukan apapun, akhirnya saya bawa juga mereka.

Yang saya herankan, bulu Sam dan teman-temannya licin, seperti habis dilumuri minyak goreng. Beberapa kali saya coba nersihkan dengan sampoo dan air hangat, tidak banyak emnolong. Apalagi Sam. Saya heran melihat jalannya jadi berubah. Tak lurus sperti biasa, tapi ‘melenting’. Seperti sulit melangkahkan kakinya. Tapi jangan ditanya semanagt makannya. Lahap habis. Senang sekali melihatnya dan teman-teman melahap habis ceker atau kepala ayam rebus yang saya buatkan. Kemudian tertidur saling berpelukan. Sebagai ibu mereka, rasanya tidak ada yang lebih membahagiakan melihat kebutuhan mereka terpenuhi, meski secara sederhana.

Namun kemudian saya terkejut. Di suatu pagi saya dapati Sam terbujur kaku. Yah, dia telah pergi tanpa saya ketahui. TNyaris tidak ada tanda atau erangan kesakitan. Saya sedih. Perkiraan saya, dia bias bertahan sedikit lebih lama karena saya sudah memberinya vitamin dan obat cacing. Tapi Tuhan berkehendak lain. Di suatu sore, di sebuah tempat, saya tunaikan kewajiban terakhir saya kepadanya. Saya kuburkan dia denga menanggung rasa sedih dan kasian karena saya belum sempat membawanya check ke vet sehubungan dengan keuangan saya.
 Sam, 23 Des 2014


Selamat tinggal sayang, Tante sayang kamu

Kamu pasti lebih baik sekarang. Tak ada kesakitan. Gak ada yang jahatin kamu lagi. 

Saya bukan orang berkelebihan. Merescue dan merawat kucing-kucing liar bagi saya karena keinginan untuk berbagi kepada sesame mahluk ciptaan Tuhan YME. Saya sadar kemapuan saya terbatas. Oleh karena itu saya mehimbau teman-teman untuk mrawat kucing, anjing dan binanatng peliharaan lainnya dengan lebih baik. Dengan cara mensterilkan mereka. Steril bukan berarti kita kejam. Tapi ini cara lebih bertabat untuk menekan angka kelahiran yang tidak diinginkan. Agar tidak banyal lagi mahluk kecil malang yang terbuang dan tersia-sia seperti Sam.

 Rasululloh r bersabda:
مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الْوَالِدَةِ وَوَلَدِهَا فَرَّقَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَحِبَّتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Barangsiapa yang memisahkan antara induk dengan anaknya maka Alloh akan memisahkan antara dia dengan orang-orang yang dicintainya pada hari kiamat (HR. At Tirmidzi 1283, tahqiq syaikh Albani: hasan).
 
Selamat tinggal sayang, selamanya Tante akan menyayangi kamu dan teman-temanmu.
               

Kamis, 19 September 2013

BERWISATA KE KABUPATEN KLUNGKUNG, SI CANTIK YANG MENGKHAWATIRKAN


Oleh: Eka Novita Damayanti
            Jujur, berbulan-bulan saya di Bali, belum semua tempat wisata di pulau cantik ini saya datangi. Hari itu, mumpung adik saya Jimmy dari Jakarta datang, tak pikir panjang saya ‘paksa’ dia menemani saya jalan-jalan. He he……
            Berbekal hasil ‘searching’ di dunia maya, kami berangkat menuju Klungkung pagi-pagi sekali. Alasan kami memilih Klungkung adalah karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari Ibukota Propinsi Denpasar.
            Dari posisi kami di Jimbaran, kami naik Bis Trans Sarbagita (Busway nya Bali) menuju Terminal Bis Batu Bulan. Alasan kami naik transportasi umum daripada menyewa sepeda motor adalah karena ingin lebih merasakan sensasi berpetualang ala backpacker dank arena memang tak punya SIM. Jadi daripada harus menanggung repot resiko tertangkap operasi polisi di jalan, ya sudah naik kendaraan umumlah jadinya.
            Buat yang belum pernah naik Bis Sarbagita, perlu mengetahui kalau halte bis tersebar di hamper sepanjang jalan-jalan utama di Denpasar dan sekitarnya. Ada dua koridor utama yang dilayani. Koridor pertama: jurusan GWK- Denpasar dan koridor dua melayani jurusan Nusa Dua- Batu Bulan. Jurusan inilah yang kami jalani.
Tak seperti Busway di Jakarta, bis kota Bali ini tak datang setiap saat. Butuh kesabaran menunggunya karena biarpun sudah ada jadwal kedatangan dan keberangkatan, tapi karena sesuatu dan lain hal seperti kemacetan di Denpasar dan sekitarnya yang terbilang rawan, maka jadwal yang sudah ada pun jadi sedikit kacau balau jadinya.
Sekitar satu jam lebih kami menunggu. sampai akhirnya transportasi umum yang digagas oleh Gubernur Mangku Pastika untuk mengentas kemacetan di Provinsi Bali ini, akhirnya datang juga. Bisnya cukup nyaman. Luas, bersih, terbilang masih baru dan ber-AC pula. Dan cukup membayar Rp. 3.500 saja sampai ke Terminal Batu Bulan. Murah kan? Memang murah, tapi heran  sampai saat ini orang Bali lebih suka naik pribadi (motor atau mobil) sehingga tak jarang armada bis berlalu dengan membawa tak lebih dari lima orang penumpang saja.     
Sekitar setengah jam, kami tiba di Terminal Bis Batubulan. Eits, kita belum sampai di tujuan kita di Klungkung, sob. Dari Batu Bulan, masih harus naik dua kali angkutan lagi yaitu dengan angkot isuzu, demikia banyak orang Bali menyebutnya, sampai ke pusat Kota Semarapura. Tidak seperti Bis Sarbagita tadi, angkot isuzu jauh dari kata nyaman. Teman-teman harus rela berdesakan dengan ibu-ibu para pedagang yang membawa serta dagangan atau belanjaan mereka. Tak ada AC, tapi biayanya bisa lebih mahal. Sekitar Rp. 10.000 sampai ke suatu tempat untuk berganti kendaraan lagi dengan angkot warna kuning kentang sampai ke pusat Kota Semarapura.
 “Ini tempatnya.” Suara pak supir mengagetkan saya yang sedang asik melihat keluar jendela. Di hadapan saya sebuah bangunan seperti sebuah kantor dengan para pegawai berseragam di dalamnya.
“Bener ini tempatnya Pak?” Tanya saya sambil menyerahkan selembar uang kertas duapuluh ribu yang dijawab pak supir dengan anggukan kepala sambil tangannya mengembalikan selembar uang sepuluh ribu.
“Ya, benar. Itu tempatnya.” Jawabnya.
Tanya kiri-kanan, memang itulah tempat yang kami tuju, Kertha Gosa yang mashur itu. Karena tujuannya datang ke Bali memang untuk menambah koleksi photo pribadinya, Jimmy adik saya, langsung mengeluarkan kamera kesayangannya yang terus dibawa kemanapun dia pergi dan disayanginya dengan sepenuh hati (maaf ya sedikit lebay) dari tempatnya dan langsung mengambil gambar beberapa sudut menarik dari bangunan bersejarah ini.  
Berdasarkan sejarah, Kerta Gosa adalah bagian dari komplek bangunan kerajaan Klungkung yang dibangun pada tahun 1686 oleh pemegang kekuasaan pertama yaitu Ida I Dewa Agung Jambe. Pada jaman dahulu Kerta Gosa adalah tempat diskusi mengenai situasi keamanan, keadilan, dan kemakmuran wilayah kerajaan Bali, atau tempat pengadilan pada jaman dulu. Kerta Gosa terdiri dari dua buah bangunan, yaitu Bale Kerta Gosa dan Bale Kambang, yaitu bangunan yang dikelilingi kolam dan taman yang disebut Taman Gili. 

Masuk ke kompleks bangunan bersejarah ini, setiap pengunjung baik turis local maupun internasional dikenakan biaya sekitar Rp.15.000. Harga tersebut sudah termasuk tiket masuk dan sewa kamen atau kain panjang yang disediakan tepat di pintu masuk bagi mereka yang memakai celana pendek atau rok mini. Karena bangunan bersejarah ini termasuk yang dihormati, jadi kalau kita ingin masuk ke dalamnya juga harus mengenakna pakaian yang sopan. 

Di dalam kompleks, akan kita lihat Bale Kerta Gosa yang merupakan sebuah bangunan tinggi di sudut kanan setelah pintu masuk dan Bale Kambang yang lebih besar terletak di tengah dan dikelilingi oleh kolam.Keunikannya Kertha Gosa ada di terletak di langit-langitnya yang bergaya Kamasan. Masih ada sebuah Pura dan museum di kompleks ini. Museum menyimpan benda-benda peninggalan raja mulai dari furniture, tandu, lukisan-lukisan, buku dan lain=lain yang kondisinya masih terjaga dengan baik. Tapi jumlah ini hanya sebagian kecil saja dari peninggalan kerajaan karena pada jaman penjajahan Belanda dulu, Kertha Gosa pernah mengalami kerusakan parah.Sayang sekali ya?

Tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk mengelilingi Kertha Gosa. Selesai menjelajah seluruh Kertha Gosa, pengunjung bisa menyebrang dan berjalan kaki sekitar lima menit saja ke obyek wisata lain yaitu Monumen Puputan Klungkung di sebelah timur Kerta Gosa atau di tengah Kota Semarapura. Tinggi banguanannya sekitar 28 meter berbentuk Lingga-Yoni yang dibangun pada areal seluas 123 meter persegi berwarna hitam
Di dalam monument, terdapat diorama perjuangan rakyat Klungkumg melawan penjajah Belanda. Tempat yang baik untuk belajar sejarah Klungkung sebenarnya, tapi sayang penerangan di ruangan dalam sangat minim sehingga ada kesan sedikit seram kalau anda ke tepat ini sendirian he he !!! Oh ya, teman-teman tidak dikenakan biaya apapun jika masuk ke areal monument ini.
Masih banyak obyek wisata lain di Klungkung selain kedua tempat ini . Tapi karena keterbatasan waktu (dan juga biaya), kami hanya menjelajah yang dekat-dekat saja. Setelah Monumen Puputan, yang paling praktis adalah Desa Kamasan, senuah desa seniman tak jauh dari pusat kota Semarapura. Sekitar sepuluh menit saja bila naik angkot dari pusat kota semarapura (naik dari samping pasar Semarapura). Kalau tidak salah ongkosnya sekitar Rp.5.000 saja. Tidak perlu takut kesasar ya? Karena Klungkung tidak terlalu luas dan semua orang dengan senang hati kana menunjukan kepadamu tempat mana yang kamu tuju. Namanya juga desa seni, kamu akan mendapati dengan mudah nama-nama pelukis yang tinggal di sepanjang jalanan desa Di sini kamu juga bisa belajar langsung lukisan tradisional Bali dari pelukisnya loh!!
Waktu mengunjungi Desa Kamasan ini beberapa waktu lalu, kebetulan bertepatan dengan perayaan salah satu hari besar agama Hindu (maaf saya lupa namanya) sehingga sepanjang jalan desa menjuntai indah penjor dari setiap rumah. Buat kalian pencinta photograpy pasti tidak akan menyia-nyiakan pemandangan seperti ini.
Tidak terasa sore cepat datang. Cepat kami bersiap pulang karena kalau tinggal lebih lama lagi, kami akan kesulitan mendapatkan angkutan umum.  Padahal masih banyak tempat wisata menarik lainnya di Klungkung yang belum kami datangi seperti Goa Lawah, Desa Tihingan, Museum Seni Lukis Klasik Nyoman Gunarsa, Goa Jepang, Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Pantai Watu Klotok atau Pantai Batu Klotok.
Watu Klotok ini jaraknya tidak terlalu jauh dari pusat kota Semarapura (sekitar 7 kilo meter saja). Sebuah pantai nan cantik berpasir hitam. Konon nama ini diambil dari bunyi bebatuan karang yang berkelotok bila diterpa ombak. Kita bisa juga menjumpai sebuah pura bernama Pura Watu Klotok yang didirikan oleh Mpu Kunturan dalam perjalanan sucinya ke Bali pada abad X.
Sayang pantai cantik dan peninggalan sejarah ini terancam keberadaannya karena ulah penambang batu kipas di pantai. Setiap hari ratusan orang mungkin lebih, menambang batu kipas. Sebagaimana kita tahu, adanya bebatuan di pantai berfungsi menahan kerasnya terpaan ombak. Tapi karena alasan ekonomi dari orang-orang yang tak bertanggungjawab ini bisa mendatangkan bahaya abrasi pantai. Kata teman saya yang tinggal di sana, konon saat ini bahkan suara ombak bisa terdengar dengan sangat jelas dari rumahnya yang berjarak sekitar dua kilometer dari pantai.
Pemerintah Klungkung bukan tidak melakkan tindakan apapun atas masalah ini. Tapi dasarnya saja mereka bandel, berkali-kali pemerintah melarang, berkali-kali pula mereka akan datang untuk menambang. Bila diteruskan, bukan tidak mungkin abrasi akan mengancam daerah yang lebih luas lagi.  Yuk, kita lakukan sesuatu sebelum terlambat.

Jumat, 15 Maret 2013

IBU BILANG MALAM ITU SINGKAWANG BERUBAH JADI METROPOLITAN HONGKONG



Penulis: Eka Novita Damayanti
Awal Januari 2012, saya ikut ibu mudik pulang kampung ke Pontianak, Kalimantan Barat karena ada kerabat kami yang menikah di sana. Sekitar seminggu saya di sana lalu pulang ke Palembang karena alasan kesibukan.
Belum lama saya di rumah. Saya ingat waktu itu malam hari waktu ibu yang masih di kampung karena alasan masih kangen menelepon dan suara beliau yang girang mengatakan malam itu beliau menjadi saksi Singkawang malih rupa menjadi Metropolitan Hongkong. Wah!!!!
Seandainya saya tidak terburu-buru pulang waktu itu, saya juga bisa menyaksikan malam saat kota kecil Singkawang berubah menjadi Metropolitan Hongkong.
♦♦
            Di wilayah Provinsi Kalimantan Barat, selain Ibu Kota Provinsi Pontianak, adalah Singkawang yang masyur dikenal orang luar. Bagi yang belum tahu, Singkawang atau San Keuw Jong atau Shānkǒu Yáng adalah sebuah kotamadya di Kalimantan Barat dengan luas sekitar 504 km2. Jaraknya sekitar 145 km dari Ibukota Propinsi Pontianak atau kurang lebih 4-5 jam perjalanan dengan kendaraan umum (bis).
            Singkawang adalah kota kecil yang multikultur dengan komposisi penduduknya sebagian besar adalah orang Hakka/Khek sekitar 42% dan selebihnya terdiri atas orang Melayu, Dayak, Tio Ciu, Jawa dan pendatang lainnya.
Kedatangan orang Khek ini terjadi dalam gelombang migrasi besar-besaran di tahun 1760 yang dibawa Belanda dari Guangdong China Selatan untuk dipekerjakan sebagai kuli tambang emas dan intan di Monterado.Meskipun secara fisik maupun budaya sebagian dari mereka sudah berasimilasi dengan penduduk lokal Kalimantan Barat, mereka tetap mempertahankan adat istiadat leluhur hingga kini seperti menganut agama Kong Hu Cu dan Buddha sehingga tak heran Kota Singkawang terkenal dengan sebutan Kota Seribu Kelenteng (Vihara) dan keberadaan kelenteng-kelentengnya cantik, membuat suasana Singkawang seperti di China daratan. 
 Keluarga Besar Kami di Depan Sebuah Kelenteng yang Ramai Bertebaran Mempercantik Kota Singkawang (Dokumen: Pribadi)
Untuk mencapai Singkawang tak terlalu sulit. Ada tiga pilihan, yaitu: teman-teman bisa naik bis antar kota yang ongkosnya dari Pontianak sampai Singkawang sekitar Rp 25.000 saja per orang. Tak perlu takut kesasar karena petunjuk perjalanan sudah cukup jelas dan orang-orang Singkawang sangat terbuka terhadap para pendatang.
Pilihan kedua adalah bagi yang ingin praktis. Menyewa mobil berikut supir. Memang sedikit lebih mahal dibanding naik kendaraan umum (bis luar kota) tapi pastinya sebanding dengan santainya teman-teman di perjalanan dan bisa jadi lebih irit juga karena bisa bersama beberapa orang sekaligus sekali berangkat. (Saya tak bisa memastikan berapa harga menyewa mobil ini berikut sopirnya sampai ke luar kota karena pastinya satu rental akan memasang harga yang tak sama dengan rental lainnya. Sebagai ilustrasi, untuk dalam kota Pontianal saja harganya sekitar Rp.350.000).
Pilihan ketiga adalah yang paling diminati (he he!!) Ibu dan rombongan keluarga besar kami beruntung karena mendapat pinjaman mobil dari kantor tempat sepupu saya bekerja (he he, benarkan lebih diminati?). Bisa lebih praktis dan ekonomis karena mengeluarkan uang sekitar Rp. 50.000 saja untuk patungan membeli bensin plus sedikit camilan ringan di perjalanan. Total untuk ongkos tak lebih dari Rp. 100.000 saja perorang.
            Selain masyur dengan vihara-vihara cantiknya, Singkawang juga terkenal dengan kemeriahan perayaan Imlek. Ya, sejak disyahkannya Keppres No. RI No. 6/2000 atas prakarsa Presiden Abdurahman Wahid atau Gus Dur yang mencabut Instruksi Presiden Soeharto Nomor 14 Tahun 1967, saudara-saudara kita dari etnis Tionghoa bebas, bas, bas, untuk menyelenggarakan hari raya Imlek dan kesempatan ini tentu saja tidak mereka sia-siakan. Di malam pergantian tahun China itu, (tanggal 23 Janurai 2012 malam), rumah-rumah warga Tionghoa di sana, dari yang sangat sederhana, menengah sampai ke rumah mewah, semuanya memasang pernak-pernik hiasan yang serba merah perlambang kebahagiaan dan pastinya waktu yang ditunggu-tunggu saat langit Singkawang ‘merekah’ oleh pesta kembang api. 

Ibu Saya  dan Dua Saudara Kandungnya dengan Latar Belakang Lampion yang Menghiasi Jalanan Kota Singkawang.
(Dokumen: Pribadi)
Saya pernah menyaksikan pesta kembang api yang megah  waktu pembukaan dan penutupan Sea Games di Palembang ini tahun 2011 lalu. Tapi ibu bilang, pesta itu masih kalah jauh dengan pesta kembang api di Singkawang. “Lebih meriah dan lama. Mungkin sekitar 5, 10 menitan. Mungkin lebih. Sahut menyahut dari seluruh penjuru kota.” cerita ibu tentang Singkawang yang meriah laksana Metropolitan Hongkong malam itu.  Dan beliau beruntung sekali bisa menyaksikan semua itu. 

“Wah, yang ini letusannya tak kalah keren ya dari sebelumnya?” Om ku tak berhenti berkomentar.  (Dokumen: Pribadi)
Di tengah benderang cahaya kembang api, ibu menengok ke sekeliling. Jalanan sudah penuh sesak manusia. Besar kecil. Tua muda. Muslim non Muslim. Melayu (sebutan orang Kalimantan buat orang Indonesia) bahkan bulenya juga ada, semua tumplek blek, menikmati malam itu. Semua ikut bergembira ria. Seperti tidak rela melepas pergantian tahun yang indah ini begitu saja.  Karenanya, Dinas Pariwisata Kota Singkawang memasukkan megahnya perayaan imlek ini dala kalender kunjungan wisata unggulan daerahnya.

Meskipun Berjilbab, Kehadiran Keluarga Kami di Tengah Kemeriahan Imlek Tak Dipandang Aneh Karena Semua Manusia Tumplek Blek Malam Itu.
(Dokumen: Pribadi)

Tidak hanya jadi ajang bergembira ria, warga yang merayakan imlek juga bersyukur atas berkah rejeki selama setahun yang mereka lalui. Mereka mendatangi tempat-tempat peribadatan (vihara, kelenteng, dll) seraya memanjatkan doa semoga di tahun mendatang mereka juga mendapatkan rejeki yang semakin berlimpah.

Ibu dan Keponakan Kecil Saya dengan Latar Belakang Umat yang Menghadiri Persembayangan di Sebuah Kelenteng (Dokumen: Pribadi)
Sayang banyak yang salah menafsirkan ini. Menyangka Imlek (Xin Jia) sebagai perayaan hari besar agam Khong Hu Chu.  Padahal, meninjau dari sejarahnya, imlek adalah perayaan yang dilakukan oleh para petani di daratan Tiongkok sana karena diberikan hasil panen yang melimpah pada saat musim  semi setelah kerasnya musim dingin yang mereka lalui. Begitu cerita Ibu Sherly, guru Mandarin saya.
Jadi, apapun agamamu, asalkan teman-teman merasa berdarah warga keturunan China, boleh dan syah merayakan imlek (Xin Jia). Bersyukur  karena rejeki yang teman-teman dapat, bisa disesuai dengan tempat peribadatan agama masing-masing.
Selain bergembira dan bersyukur, perayaan setahun sekali ini diisi dengan berbagai kegiatan yang intinya adalah bersilahturahmi. Saling mengunjungi keluarga karena warga keturunan percaya dibalik kesuksesan seseorang ada orang yang berjasa (orangtua, guru, teman-teman, kerabat, dan lain-lain) kepada orang-orang itulah mereka bersilahturahmi.
Okelah. Mulai tertarik? Pastinya! Sensasi setahun sekali ini memang sayang kalau dilewatkan begitu saja. Saya, salah satu orang yang menyesal tidak bisa langsung menghadirinya (hikkkss!). Seandainya saya mudik lagi, saya pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Apalagi di Singkawang ada keluarga yang bisa saya tumpangi  plus makan gratis juga (he he…) sehingga pengeluaran untuk akomodasi bisa diminimalkan. Itulah untunganya punya keluarga besar. 
Teman-teman tidak punya keluarga di Singkawang? Tenang. Meskipun sebuah kota kecil, Singkawang sudah teroraganisasi dengan baik. Aman dan bersahabat dengan para pendatang baru. Bahkan yang belum berpengalaman ke sana sama sekali. Ada banyak penginapan di sana mulai dari yang murah merian sampai yang mahal. Berikut saya rekomendasikan tiga di antara yang banyak itu sebagai pertimbangan teman-teman.
Yang pertama adalah Mahkota Hotel (Bintang 3) di Jalan Diponegoro no 1 Singkawang. Harga yang ditawarkan mulai Rp 329.000, kemudian ada Palapa Beach Hotel di daerah wisata Pasir Panjang Singkawang dengang kisaran harga sekitar 349.000. Hotel yang sangat direkomendasikan buat teman-teman yang menyukai suasana pantai. Masih ada Hotel Khatulistiwa di Jalan Diponegoro 25 Singkawang dengan harga sekitar Rp. 412.000-an dan masih banyak lagi pilihan lainnya di sini. Pastikan teman-teman melakukan reservasi dulu ya sebelum berangkat untuk menjamin ketersediaan kamar. Maklum di kesempatan ramai Imlek ini, tak sedikit orang yang sama ingin ke sana.
Bagaimana dengan makan? Wow, Singkawang terkenal untuk urusan yang satu ini. Bakso Singkawang, adalah yang saya rekomendasikan di urutan pertama. Rasanya sungguh tak mengecewakan. Dulu, waktu masih bekerja di Pemangkat (sekitar 30 km dari Singkawang), bakso Singkawang ini yang pertama saya cari setiap main ke sana. Selain bakso yang bikin ngiler, masih ada tahu Singkawang yang homemade dan aman dikonsumsi karena terbuat dari kedelai alami dan tanpa bahan pengawet. Rasanya boleh diadu. Tak asam seperti tahu-tahu kebanyakan. Masih ada lagi produk turunannya yaitu bubur tahu dan air tahu yang juga enak pastinya. Tapi kemungkinan teman-teman akan sedikit kesulitan mencari makanan di Singkawang pada tahun baru Imlek begini. Tak lain karena banyak restoran dan rumah makan tutup di hari pertama sampai dengan hari ke empat kira-kira, karena pemiliknya merayakan imlek. Pilihan yang tersisa adalah makan di hotel atau di rumah makan milik orang-orang Melayu. Tapi seorang teman pernah cerita ada saja satu dua rumah makan, restoran ataupun toko yang buka meski di tahun baru seperti itu. Bagi mereka yang berkomitmen buka seperti ini, konsekuensinya adalah mereka ‘harus’ tetap buka selamanya dari hari pertama imlek sampai terakhir nanti. Ada lagi nih. Banyak rumah makan halal, tapi teman-teman muslim, tak ada salahnya sedikit berhati-hati memilih di mana akan makan di Singkawang ini.
Begitu sedikit  cerita tentang perayaan tahun baru Imlek, Shin Chia atau Xin Nian yang penuh makna. Perayaan kebudayaan yang telah lama ‘dikebiri’ oleh pemerintah orde baru untuk alasan yang tidak jelas. Berwisata ke sini teman-teman akan mendapat ‘paket lengkap’. Tak sekedar bersenang-senang, tapi juga belajar budaya serta menghormati dan mencintai perbedaan. Ibarat kata, untuk membuat sebuah resep kue saja dibutuhkan bahan-bahan yang beragam. Apalagi untuk membangun bangsa sebesar ini.
♦♦
Informasi Tambahan:
  1. Versi lain dari Perayaan Imlek ini adalah rasa syukur penduduk karena terbebas dari gangguan dan ancaman Nian (baca: Nien) seekor mahluk jahat yang turun gunung satu tahun sekali untuk memangsa apa saja yang dilihatnya termasuk manusia. Guna menghindari ancaman Nian, penduduk memasang kain, pernak-pernik hiasan, sampai memakai baju berwarna merah karena Nian si mahluk jahat itu sangat takut melihat warna itu. Selain itu, mereka juga membunyikan bunyi-bunyian keras termasuk petasan karena si Nian juga tak suka itu. Dari cerita inilah kiranya orang-orang selalu memakai baju merah dan memasang ornament serba merah dan membunyikan bunyi-bunyian keras pada tahun baru China ini.
  2. Yang tak bisa dilepaskan dari Tahun Baru China atau Imlek atau Xian Nian ini adalah falsafah hidup warga keturunan yang pekerja keras dan hemat (kabarnya bahkan cenderung pelit, mohon maaf sebesarnya kalau saya salah), namun di perayaan tahun baru, mereka justru menghabiskan sebagian besar uang yang mereka kumpulkan selama ini sebagai tanda bersyukur atas rejeki yang diberikan Tuhan. Salah satunya adalah dengan membeli kembang api ini. Mereka tak ragu sedikitpun untuk keluar uang betapapun besarnya.
  3. Puncak perayaan adalah arak-arakan Cap Go Meh keliling kota pada hari kelima belas. Seperti Imlek, Cap Go Meh di Singkawang juga sama menariknya dan sayang kalau dilewatkan.