Senin, 25 Juni 2012

PONTIANAK YANG MEMIKAT


PONTIANAK YANG MEMIKAT
Penulis: Eka Novita Damayanti

            Suatu kali tanya seseorang bertanya pada saya, “Aslinya dari mana, Mbak?”          
“Pontianak, Mas.” Saya menjawab dengan wajah sumringah.
            “Oh….yang di Sulawesi itu ya?”
Sumringah di wajah saya mendadak menghilang. Tuhan, tidakkah dia tahu dimana sebenarnya Pontianak itu? Saya terangkan Pontianak terletak di Propinsi Kalimantan Barat yaitu sebagai ibu kotanya dan belum pernah dipindahkan ke Sulawesi. Mungkin saya mengatakannya agak ketus  karena sesudahnya Si Mas yang tak lain adalah mahasiswa Perguruan Tinggi Anu di Jakarta ini, tidak meneruskan bertanya dan memilih cepat pergi. (maaf ya Mas!)
            Kemudian saya berpikir, tidak seharusnya saya marah begitu. Bukankah dia sekedar bertanya? Meski memang agak menyebalkan karena yang mengajukan pertanyaan semacam itu adalah seorang akademisi. Berangkat dari peristiwa itu saya bertekad ‘menebus kesalahan’. Sejak peristiwa itu, saya yang punya darah Melayu Pontianak dari ayah, berusaha menggunakan setiap kesempatan yang ada termasuk melalui ajang menulis ini untuk memperkenalkan kampung halaman tercinta utamanya keragaman budaya dan adat istidatnya. Harapan saya kelak tak ada lagi pertanyaan semacam itu dan kita bangsa Indonesia lebih mengenal dan mencintai pariwisata di negeri sendiri sebelum kita mengenal dan mencintai obyek wisata di negara lain. 
            Okelah kalau begitu. Pontianak adalah tempat yang menarik untuk dikunjungi. Bisa ditempuh melalui dua jalur: laut  dan udara. Di kota ini wisatawan bisa menikmati beragam wisata antara lain: wisata alam, wisata sejarah dan ilmu pengetahuan, wisata budaya, wisata belanja maupun wisata kulinernya. Tidak percaya? Yuk, baca terus tulisanku ini.
Wisata Alam
            Mereka yang mencintai alam, tentu tak menyia-nyiakan kesempatan menikmati keindahan Sungai Kapuas (panjangnya sekitar 1.143 km) dengan kapal kecil dan perahu yang berlalu-lalang dari dermaga taman kota di Jalan Tanjung Pura atau dari hotel dan restoran di sekitarnya. 
Penulis di alun-alun kota Pontianak dengan latar belakang pemadangan Sungai Kapuas malam hari

Di bulan puasa atau pada hari-hari besar tertentu, Sungai Kapuas ramai didatangi orang yang menonton lomba perahu bidar (perahu naga) dan lomba meriam sundut. Yang terkahir ini saya pernah menyaksikannya sendiri. Ramai. Seru. Sahut menyahut berbalasan dari kedua tepian sungai. Jangan khawatir. Permainan tradisional ini tidak berbahaya karena pelurunya relatif aman. Terbuat dari karbit yang direndam dalam air sampai beberapa waktu kemudian di sulut api. Meriamnya terbuat dari batang pohon tertentu yang hidup di sana dan diikat dengan simpai. Anda bisa melihat permainan ini lebih jelas dari atas Jembatan Kapuas. Tapi jangan terlalu banyak orang ya menyaksikannya? Jangan pula terlalu lama, atau Anda akan menyebabkan kemacetan parah di atas jembatan.
            Tidak seru? Coba pilihan lain. Menggunakan kapal misalnya. Ada dua kapal yaitu Galaherang dan Sarasan yang bisa ditumpangi untuk berkeliling kota melalui jalur Sungai Kapuas. Jangan takut kemahalan karena ongkosnya hanya 10 ribu hingga 20 ribu rupiah per orang per satu jam. Anda bisa melihat bagaimana kehidupan masyarakat Pontianak, utamanya yang bertempat tinggal di tepi Sungai Kapuas. Bisa juga menggunakan Kapal Klotok, kapal kecil yang bila berjalan berbunyi tok…tok..tok untuk keperluan yang sama.
            Masih belum seru juga? Anda patut mencoba yang satu ini. Kapal Bandong namanya. Terbuat dari kayu yang dirancang menyerupai rumah terapung. Berwisata dengan kapal ini enaknya bersama rombongan. Makin banyak, makin seru. Anda bisa menikmati keindahan Kapuas, memancing ikan, masak dan makan langsung di atas kapal Bandong itu juga dan menginap sekalian. Biayanya relative.  Maksudnya tergantung bisa-bisanya Anda berunding dengan si pemilik. Biasanya berkisar 250 ribu hingga 400 ribu rupiah per malam. Agak mahal memang. Tapi kalau dibagi dengan jumlah orang dalam rombangan, jatuhnya malah jauh lebih murah. Asal jangan over loaded ya?
Wisata Sejarah dan Budaya
            Masih di Kota Pontianak, tapi sekarang kita naik ke darat. Kita menuju Rumah Betang, rumah adat suku dayak di Jalan Let. Jend Sutoyo menggunakan oplet dengan tarif rata-rata Rp. 3,000. 

  
Penulis di Rumah Adat Betang
Jangan takut kesasar ya? Karena trayek oplet di Pontianak ini sedikit dan kemana-manapun, ujung-ujungnya pasti stop di Terminal Bayangan Kampung Bali.
Rumah Betang ini semacam rumah adat di TMII Jakarta. Bentuknya sangat khas yaitu dibuat berkolong, berhiaskan ukiran dayak dan berbahan kayu khusus pula yaitu kayu besi atau kayu belian kata penduduk setempat, sehingga menebarkan aroma yang khusus pula. Meskipun rumah Betang di Jalan Let. Jend Sutoyo ini adalah rumah adat suku dayak, tapi sering juga digunakan oleh etnis lainnya untuk berkegiatan. 

Penulis di Rumah Betang dengan latar para remaja yang sedang berlatih tari tradisional melayu
Waktu berkunjung ke sana pertengahan Januari 2012 lalu, saya melihat sekelompok remaja sedang berlatih tarian melayu sebagai persiapan menuju Ritual Robo-Robo di Kabupaten Mempawah. Melihat mereka, Andaakan paham keselarasan hidup di antara kelompok-kelompok masyarakat di sini tidaklah seburuk yang dikatakan orang selama ini. 

Salah satu kesenian masyarakat Melayu Kalimantan Barat

Wisata Ilmu Pengetahuan dan Sejarah
            Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya. Mengusung semboyan itu, kita lanjutkan jalan-jalan kita ke Jalan A. Yani, tak terlalu jauh dari posisi kita yang di Rumah Adat Betang. Di Museum ini, Anda bisa menyaksikan berbagai koleksi seperti koleksi Prasejarah, Fiologika, Teknologika, Etonografika, Historika, Numismatika, Keramologika sampai
bentuk miniatur tugu khatulistiwa. Bentuk tugu khatulistiwa yang asli ada di dalam Museum Khatlistiwa, Jl, Khatulstiwa, Siantan Utara (+/- 3 km dari pusat kota Pontianak mengarah ke Mempawah). 


Tugu Khatulistiwa (courtesy of Jimrock Photograph)

Bagi yang belum tahu, tugu ini adalah merupakan ikon Kota Pontianak yang menandai Pontianak dilalui oleh garis imajiner khatulistiwa. Tugu ini sering dikunjungi wisatawan terutama saat peristiwa Kulminasi Matahari (21-23 Maret dan 21-23 September) yaitu saat matahari tepat di atas kepala kita dan semua bayangan seolah hilang dalam beberapa detik.
            Masih ada tempat wisata lainnya yang sayang untuk dilewati yaitu Istana Kadriah Kesultanan Pontianak, Masjid Jami’ Sultan Abdurahman yang lokasinya saling berdekatan di Kelurahan Dalam Bugis, Pontianak. 

Istana Kadriah Pontianak (courtesy of http://www.beautiful-vacation.com/2011/09/kadriah-imperial-palace-pontianak-west.html)

Ada pula Makam Raja-Raja Kesultanan Kadriah Pontianak yang letaknya agak ke luar kota yaitu di Batu Layang. Berkunjung ke Istana Kadriah kita bisa belajar tentang sejarah dibangunnya Pontianak tahun 1771 oleh Al Habib Husein dari Semarang. Sayang keadaannya sekarang kurang terawat lantaran kekurangan biaya dan para ahli waris tak punya cukup biaya untuk melakukan pemugaran. Ditambah lagi tangan-tangan jahil yang mencabuti pondasi istana sehingga menyebabkan lantai kayunya bergelombang. Sungguh, sangat disayangkan.
Wisata Kuliner
            Berjalan seharian di tengah cuaca Pontianak yang panas tentu membuat Anda merasa haus dan lapar, bukan? Jangan takut, Pontianak banyak menawarkan pilihan sajian khas yang patut dicoba. 

Kue Bingke Ubi yang Yummy
Ada wedang serbat, minuman yang tak sekedar menyegarkan, tapi bisa memulihkan tenaga juga. Ada pula sambal serai udang yang pastinya enak. Ada sup ayam putih. Ada Selada Timun. Ada Bingke Ubi yang yummy. Ada kue jorong yang tak kalah nikmat. Ada Pisang goreng Pontianak yang keriting-keriting nikmat. Ada Bubur Pedas dengan aromanya yang khas. Ada Pengkang (ketan bakar isi) yang menantang. Pendek kata, Anda tidak akan kecewa mencobanya.

Pengkang Bakar Isi
Wisata Belanja.
            Jalan-jalan tentu tak lengkap tanpa membeli oleh-oleh buat yang di rumah ya? Kita mulai dengan kain songket sambas dengan paduan benang emas atau perak yang indah. Coraknya khas dan tak sama dengan corak kain songket dari daerah lain di Indonesia. Asalnya sih dari Kabupaten Sambas, tapi Anda juga bisa membelinya di Pontianak. Harganya bervariasi. Tergantung tingkat kerumitan dan pandai-pandainya Anda menawar. ☺
            Ingin oleh-oleh yang murah meriah? Ada juga. Kaos alias T shirt produksi Selembe (cuek ah..! dalam Bahasa Pontianak) bisa menjadi salah satu pilihan. Seperti kaus Dadung dari Yogyakarta atau Joger asal Bali, Selembe menawarkan kaus-kaus khas bertuliskan kata-kata yang akan mengingatkan Anda akan Pontianak seperti: I love Pontianak, Aku Budak (anak) Pontianak, gambar tugu khatulistiwa atau motif Dayak Ruai. Ada juga miniatur rumah adat dayak dan miniatur tugu khatulistiwa yang disimpan dalam kaca. Soal harga, tergantung besar kecilnya barang. Ada juga Mandau, senjata khas suku Dayak yang bisa Anda gantung di dinding rumah. Ada topi dan gendongan bayi juga dari suku dayak Kalimantan Barat.
            Apa? Anda ingin oleh-oleh yang bisa dimakan? Tentu saja ada. Kue Bingke yang bisa menjadi pilihan. Tersedia dalam kotak-kotak kecil. Rasanya enak dan telurnya terasa sekali. Pilihan favorit saya di sini. Masih ada lempok (dodol) durian, manisan lidah buaya, nata aloe vera (semacam nata de coco tapi berbahan dasar lidah buaya), coklat lidah buaya yang tak sekedar enak tapi juga menyehatkan. Bila Anda seorang shopaholic, siapkan saja keranjang dan budget yang banyak. Anda pasti tak akan kecewa.
Berwisata ke Pontianak, bisa dijadikan alternative pilihan bila Anda bosan berwisata ke tempat yang sama lagi dan lagi dan menginginkan wisata dalam negeri yang selain murah, menambah wawasan, juga akan menjadi kenangan tersendiri karena belum banyak orang yang tahu. Banyak kabar burung di masyarakat tentang Kalimantan Barat yang tidak aman dan rawan kerusuhan. Pendapat saya, asal kita pandai membawa diri, Insya Allah semua akan aman-aman saja karena pada dasarnya warga Pontianak itu ramah, terbuka dan menerima manusia dari etnis manapun. Jadi tunggu apa lagi? Yuk, kita berwisata ke Pontianak yang memikat!
Informasi Tambahan:
·         Ada baiknya Anda ke Pontianak tidak pada peak season seperti Hari Qing Beng atau sembahyang kubur bagi etnis Tionghoa karena tiket pesawat dan kapal laut pastinya akan melonjak beberapa kali lipat.
·         Taksi agak jarang ditemui, kecuali di Bandara Supadio dan mal-mal besar di Pontianak. Juga tak ada ojek motor seperti di kota-kota lain. Tapi Anda bisa menyewa mobil seharga Rp. 350,000 per hari berikut supirnya. Bisa praktis karena Anda tak perlu repot membuka-buka peta atau takut tersesat karena sang supir pastinya sudah paham betul seluk beluk kotanya dan tempat-tempat mana yang bagus untuk dikunjungi.
·         Kalau Anda tak pun kerabat untuk ditumpangi di sini, jangan takut. Pontianak menawarkan sejumlah hotel murah seperti Hossana Inn di Jalan Pahlawan no 224 Pontianak. Di sini tarif kamar bervariasi dari yang termurah kelas standar Rp. 80,000/ malam sampai kelas executive Rp. 195,000/ malam. Ada yang sedikit mahal yaitu Hotel Garuda. Tarifnya yang termurah Rp. 250,000/ malam untuk kelas standar dan yang termahal adalah Rp. 750,000 untuk kelas executive. Sebenarnya masih ada banyak sekali hotel lain, tapi keduanya sering direkomendasikan bagi para wisatawan yang datang ke Pontianak. Ada baiknya Anda memesan sebelum kedatangan. Untuk menjaga ketersediaan kamar.
·         Patut juga dikunjungi Ritual Robo-Robo di Kabupaten Mempawah (sekitar 67 km dari Pontianak) memperingati berdirinya kerajaan Islam Amantubilah di sana. Diperingati setiap Hari Rabu (Robo) di Bulan Safar penanggalan Islam. Memang bukan lagi termasuk dalam wilayah Kota Pontianak tapi sangat sayang untuk dilewati bila kebetulan Anda berkunjung ke sana, karena pada waktu bersamaan digelar berbagai kesenian masyarakat Melayu Kalimantan Barat seperti Tari Japin, Berbalas Pantun, Fashion Show busana Melayu, Lomba Karaoke Lagu Melayu, Makan Saprahan (makan bersama di halaman Istana Amantubilah Mempawah dengan lauk pauk tradisional yang hampir punah dengan nampan/ tampah sebagai pengganti piring), Drama Theatrikal kedatangan Opu Daeng Manambon si pendiri kerajaan Islam Amantubilah dan masih banyak lagi.      




Tidak ada komentar:

Posting Komentar